Bersama memelihara kesehatan secara alami

Kutai Kartanegara, Nur Aidah, bocah perempuan yang tinggal di Loa Kulu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur itu, kini terbaring lemas di RSUD AM Parikesit, Tenggarong, Kutai Kartanegara. Keceriaan masa anak-anaknya seolah direnggut melalui jarum infus di lengan kanannya.

Minggu (23/9/2012) siang, jarum jam menunjukkan pukul 13.11 WITA. Saat itu, Aidah terbaring di lantai depan Ruang Perawatan Mawar RSUD AM Parikesit di Jl Imam Bonjol, Tenggarong. Bukan sebab rumah sakit itu kehabisan tempat tidur, melainkan suhu udara saat itu yang cukup bikin Aidah berkeringat.

Sekilas, tidak ada yang terjadi terhadap Aidah, yang masih tercatat sebagai murid kelas 2 SD 004 PAL VII Loa Kulu itu. Meski terkadang mengerang kesakitan saat lengan dan kakinya disentuh tantenya yang menjaganya, namun Aidah tetap dengan lancar bercerita tentang kejadian yang dialaminya kepada detikcom yang mengunjunginya.

“Dipukuli mama. Mama suka marah-marah. Dipukuli dengan kayu,” kata Aidah.

Tidak sekali dua kali sang ibu kandungnya, Lia Rohamah, memukuli Aidah. Sejak di bangku Taman Kanak-kanak (TK) Dahlia, tindak kekerasan kerap dialami Aidah seolah tanpa belas kasihan. Hampir seluruh anggota tubuh Aidah, menjadi sasaran amarah sang ibu yang kini justru meninggalkannya dan kini berada di Kabupaten Berau, bersama adik kandungnya, Nabila Sri Wahyuni.

“Dipukul mama di paha, dada, tangan dipelintir, punggung Aidah dibanting mama,” ujar Aidah.

Kesehariannya, Aidah tinggal bersama ayahnya lantaran kedua orang tuanya berpisah. Sedangkan sang adik, dibawa ibua ke Berau. Sebelum pergi ke Berau, Aidah mengalami tindak kekerasan itu di rumahnya sendiri, sehingga para tetangga di sekelilingnya menaruh iba.

Perlakuan tidak pantas dilakukan ibu kandung terhadap anaknya itu seolah menjadi trauma mendalam Aidah, yang mampu mengingat dengan kuat perlakuan demi perlakuan ibunya dan menyampaikannya dengan tutur bahasan yang polos, umumnya anak-anak seusianya.

“Nggak mau ketemu mama lagi, Aidah nggak mau pulang,” sebutnya.

Pun demikian dengan Simah (37), tante Aidah, tidak banyak penjelasan yang bisa disampaikannya perihal dugaan kekerasan yang dialami keponakannya, Nur Aidah. Yang ada dibenak Simah saat ini, hanya menginginkan Aidah sembuh dari kondisinya saat ini.

“Aidah kami bawa masuk sini (RSUD AM Parikesit) sejak hari Kamis (20/9/2012) setelah dirujuk Puskesmas. Saya tidak mau berpikir macam-macam. Saya cuma mau Aidah sembuh, itu saja,” kata Simah sambil mengusap kepala Aidah.

Praktis dengan kejadian yang dialami keponanakannya itu, sejak 5 September 2012 lalu, Aidah tidak lagi bersekolah dikarenakan kondisi fisiknya yang terus melemah. Terlebih lagi, Aidah pun mengalami kesulitan untuk dapat duduk.

“Saya dan suami, mau tidak mau harus mengambil alih mengasuh Aidah. Meski saya sendiri tidak mampu, tapi saya berniat ingin merawatnya. Terlebih lagi dengan kejadian ini,” ujar Simah.

“Dulu, Aidah ini tergolong anak yang cukup berisi, tidak seperti sekarang ini. Cukup Aidah, semoga tidak ada kejadian seperti ini dialami anak-anak seusia seperti Aidah,” sebutnya.

Masih sesekali Aidah terlihat mengerang kesakitan saat lengan dan pahanya disentuh oleh Simah. Sangat memperihatinkan, di saat Aidah masih sangat memerlukan kasih sayang seorang ibu, justru yang dialaminya adalah perlakuan yang sangat tidak manusiawi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: